Kecenderungan proses berpikir masyarakat kita dalam membaca gejala dan tanda tanda alam, adalah berpikir secara mistis. Ketika orang berpikir bahwa awan panas yang oleh masyarakat di sebut wedhus gembel turun dari puncak MERAPI, mereka berpikir bahwa awan itu memiliki tenaga gaib yang bisa menghancurkan. Dalam alam pikiran agraris yang dekat dengan alam, berpikir secara mistis itu memang sangat kuat sekali. Tetapi ketika sekarang jaman sudah menuju ke era modern, masyarakat bersedia mempertimbangkan penjelasan dari lembaga yang berkompeten berdasarkan ilmu pengetahuan. Mata mereka kini semakin terbuka untuk berpikir lebih logis. Alam pikiran mistis dengan sendirinya terkikis oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.

Saya pernah membaca akan filosofi Ki Hajar Dewantara dengan tiga N nya, yaitu niteni, niroke dan nambahi.
Niteni : kita berupaya untuk lebih mengenali berbagai kejadian gejala alam yang berlangsung selama ini. Dengan mengenali maka kita akan tahu kapan bencana alam itu mungkin akan tiba.
Nirokake : menirukan dalam ilmu pengetauan modern bisa diartikan simulasi, yang merupakan langkah selanjutnya setelah niteni. Dengan berupaya menirukan kejadian alam yang kita alami maka kita bias mellihat apa yang akan kita perbuat bagi keselamatan kita sendiri.salah satunya adalah rumah tahan gempa yang bersifat lentur yang tahan akan goncangan gempa.
Nambahi : mengupayakan nilai tambah dalam menyingkapi kejadian kejadian alamyang telah kita kuasai dan bisa ditirukan tersebut.

Niteni, Nirokake dan Nambahi adalah perwujudan dari cipta, rasa, karsa dan karya bangsa ini. Diharapkan dengan demikian masyarakat kita semakin prigel tangane, mlethik nalare lan padang wawasane, sehingga bisa menerima dengan lapang dada, baik mitos maupun teknologi secara seimbang.setelah itu kita akan melihat jalan yang menjadikan kita semakin percaya diri untuk maju ke depan.
Bangsa yang besar tidak harus bertumpu pada pesimesme mitos juga tidak perlu mengunggulkan kepercayaan diri dengan arogansi sebuah pandangan yang Cuma melulu modern saja. Optimesme menengahi keduanya sehingga menjadikan semacam iman keyakinan berbasis kenyataan bukan angan angan. Iman dibutuhkan seperti lilin kecil yang menyala disaaat meraba lorong gelap hidup yang tak ada ujung nya.